Selasa, 03 Oktober 2017

Puisi_Esensi Usia



ESENSI USIA
Oleh: Herti Gustina  

kukira bertambah, nyatanya berkurang
nyanyian indah bersemayam bersama rangkaian aksara
melebur menjadi satu cerita
terkubur menyergapi kenangan yang tak bertepi
lembayung sempat menyinggahi payung hidup
tak berapa jua pernah terukir cerita duka
namun suka lebih indah untuk dipapah

dulu ditimang, dimanja
sekarang dipinang, berkembang
tak perlu berharap tiupan lilin di atas kue tart
cukup pejamkan mata lalu tadahkan tangan
Tuhan itu kuasa

halaman baru siap dibuka
antologi kehidupan hari demi hari akan dapat dibukukan
tinggal menunggu tanggal penerbitan
revisi, koleksi, cetak
retakkan segala keraguan
seni itu tak bertuan
tinggal hidangkan, lalu nikmati
estetika penuh cinta
usia tak seberapa
kurang namun berkembang

Jambi, 10 Januari 2015

Puisi_Esa



ESA

hati terus saja meronta
di balik jeruji dia masih bisa tertawa
kuterawang setiap ruang waktu
masih terselip pedang tajam yang menghujam zaman
sampah yang mengerak terporak-porandakan oleh masa
esa terbelah dalam kuasa
runtuh, luluh dalam sejuta keluh

sudahlah, ini hanya permainan waktu
perputaran rotasi yang terus merevolusi
tunggu saja, matahari masih berselimutkan awan
masih sempat untuk kita memadukan langkah
tidak ada kata perang, hanya ada dentuman meriam
di balik singgasana tahta
di sana kita akan bercumbu dengan senapan
ya, senapan kata yang membuka mata
di balik kaki sang garuda
kita adalah esa

Mendalo, 29 November 2013

Puisi_Diam Namun Meradang



DIAM NAMUN MERADANG

di sudut-sudut kumuh gerbang kota
serdadu mengadu menengadah mengharap hiba
meraung tapi tak bersuara
tangan dan kakinya kaku
mulutnya bisu disumbat si penyebar umpat

dia diam namun meradang
tertawa dengan isak yang semakin memekak
gemuruh riuh suara-suara kelaparan

apa yang mereka makan?
luka-luka yang berkecambah di tubuh mereka
mereka haus!
ia minum air mata mereka
semua lelaph pasrah dalam basah keringat
dan air mata

Jambi, 21 Maret 2014

Puisi_Candu Sang Pujangga



CANDU SANG PUJANGGA

Pujangga, kau penggemar kata penuh makna
Menggemparkan dada sang pecinta
Menyisir tiap desir alunan pasir
Beralun dalam tiap denting detik jam loker

Pujangga, kau hanyutkan aku dalam aliran nadi di tanganmu
Menindas tandas setiap hela nafasku
Menyesat sesak dalam samudera lepas
Menderet sejuntai harap
Kau katak yang melagukan nyanyian hujan
Sajak dalam larutan tuak

Pujangga,
Kini kusadari puitismu
Bagai narkoba yang menggoda

Daun harus luruh ketika telah jenuh
Bunga akan layu ketika telah kelu
Namun aku haruskah begitu?
Hanya batanglah penopang segala tanya

5 Mei 2013

Puisi_Bingkai Jendela Tua



BINGKAI JENDELA TUA

Meniti hari dengan kelu
Seumpama mengusir pilu di bingkai jendela tua
Gagang rapuh yang hendak runtuh
Mengaduh dalam luluh

Daun cemara enggan meluruh
Ingin menata tanpa kasta
Dalam setiap dengungan sang biara
Berdiam menikam senyap
Melamun dalam kurun yang hendak lenyap

5 Mei 2013